Rabu, 25 Juli 2007

Sebagian WNI Etnis Tionghoa di Jatim Masih Galau

http://www.fica.org/cs/sp-mayriot03-id

SUARA PEMBARUAN DAILY

Sebagian WNI Etnis Tionghoa Di Jatim Masih Galau

Surabaya, 29 Juni

Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan etnis Tionghoa atau nonpribumi yang lahir dan besar di bumi pertiwi mengaku 'sakit', karena masih belum dapat diterima secara tulus sebagai bagian dari bangsa Indonesia sejati oleh etnis mayoritas. Mereka yang sadar sebagai kelompok minoritas sudah, sedang dan akan terus ikut berpartisipasi dalam pembangunan di segala bidang, menolak disebut sebagai WNI keturunan Cina atau Tionghoa. Namun mengharap agar cukup disebut dengan WNI etnis (suku) Cina atau WNI etnis Tionghoa.
Demikian salah satu ungkapan utama yang muncul dalam dialog terbuka antara ratusan WNI etnis Tionghoa yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Persatuan (YBP) Jatim, dengan Muspida Jatim yang diprakarsai Pangdam-V Brawijaya, Mayjen TNI Djadja Suparman SiP di Gedung Balai Kartika, Surabaya, Sabtu (27/6).
Hadir dalam acara tersebut Gubernur Jatim, H. Basofi Soedirman dan Kapolda, Mayjen Pol Drs M Dayat SH,MBA,MM, Kajati, Adenan Kasian,SH serta Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Imron Hamzah.
''Kami lebih suka disebut sebagai WNI etnis Cina katimbang WNI keturunan Cina.
Sebagaimana WNI etnis-etnis lain, sebutan etnis lebih akrab dan benar-benar menunjukkan pembauran dan kebersamaan,'' salah seorang peserta dialog menyatakan.
Dikatakan, para warga etnis Tionghoa umumnya masih memiliki perasaan was-was, takut dan trauma, kendati pun sudah berusaha membaur.
Peserta dialog lainnya juga mengungkapkan, masih banyak WNI etnis Tionghoa yang berada di luar negeri karena semata-mata takut menjadi sasaran kebrutalan massa. Padahal, hampir seluruh dari mereka sangat mendukung gerakan reformasi yang sedang berlangsung. ''Di sini pula tanah air dan tumpah darah kami.
Jadi mohon perlakuan yang sama dengan etnis lainnya,'' tegas peserta dialog lain yang mendapat dukungan tepuk tangan para peserta.
Jaminan Keamanan
Pangdam Mayjen TNI Djadja Suparman, dalam kesempatan itu menyatakan akan tetap dan terus meningkatkan keamanan di wilayah Jatim dari aksi keributan, termasuk menjamin ketentraman WNI etnis apa pun selaku warga negara Indonesia.
''Jangan WNI etnis Cina, bangsa lain pun yang berada di wilayah Indonesia mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang sama dalam segi keamanan,'' tandas Djadja yang segera alih tugas sebagai Pangdam Jaya di Jakarta.
''Kebijakan itu pasti akan juga ditindaklanjuti oleh pengganti saya, jika benar saya akan alih tugas dari jabatan Pangdam-V Brawijaya,'' janji panglima. Oleh karenanya, ia mengimbau agar WNI etnis Tionghoa tidak terlalu memendam galau atau resah lagi, seraya terus lebih menyatu dengan warga masyarakat pribumi mau pun dengan etnis lain secara wajar penuh kekeluargaan.
Jika WNI etnis Cina lebih peduli dengan lingkungan masyarakat mayoritas, maka keberadaannya dijamin tidak akan diganggu, tambahnya.
Dalam kesempatan itu salah seorang pengusaha asal Semampir, Surabaya mengungkapkan kekecewaannya ketika toko dan rumahnya beberapa waktu lalu menjadi sasaran jarahan sekelompok massa.
Namun ketika akan melakukan perlawanan (mempertahankan diri), ia merasa takut dan khawatir kalau-kalau malah akan jadi korban jika salah satu di antara massa itu terluka atau sampai meninggal dunia.
Kapolda Jatim yang diminta Pangdam memberikan jawaban menyatakan, dalam KUHP sudah jelas disebutkan, upaya membela diri untuk mempertahankan nyawa dan harta benda miliknya, dijamin oleh undang-undang melalui pasal 49 KUHP.
Jawaban yang sama juga disampaikan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jatim, Adenan Kasian, SH.
Pasal Pembelaan
Pasal tersebut menguraikan; (1) Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri mau pun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum. (2) Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman itu, tidak dipidana.
Kapolda pada bagian lain menambahkan, terhadap sindiran pelayanan yang kurang memuaskan bagi pelapor WNI etnis Cina, ia berjanji akan terus melakukan pembenahan personel hingga tindak pembersihan internal bagi mereka yang cukup bukti melakukan penyimpangan.
''Kelambanan penanganan atas laporan dari masyarakat, Insya Allah tidak akan terjadi lagi,'' ujar Kapolda.
Disebutkan, selama sembilan bulan terakhir, ia telah menindak tegas 312 oknum anggota indisipliner dan 42 lainnya terpaksa diajukan ke Mahkamah Militer (Mahmil). Dalam upaya penangkapan, petugas kepolisian juga tidak pandang bulu.
Bahkan untuk menangkap salah seorang oknum anggota Polri yang terlibat kejahatan, anggota tim yang ditugaskan untuk memburu dan menangkapnya telah melakukan penembakan pelumpuhan. (070)

Perkosaan Brutal Untuk Kepentingan Politik Jakarta

http://www.fica.org/cs/sp-mayriot02-id

SUARA PEMBARUAN DAILY

Perkosaan Brutal Untuk Kepentingan Politik JAKARTA

- Sadis, kejam, brutal! Itulah ungkapan bagi perbuatan para perusuh yang pemerkosa wanita-wanita WNI keturunan Tionghoa pada kerusuhan 13-14 Mei lalu.
Akibat perbuatan sadis tersebut, para wanita korban perkosaan mengalami gangguan psikis yang sangat parah. Di samping derita fisik yang masih memerlukan perawatan.
Bahkan, di antara para korban yang tidak sanggup menanggung derita psikis, ada yang nekat mengakhiri hidupnya.
Menurut Ita F. Nadia, koordinator Kalyanamitra, salah satu divisi Tim Relawan yang menangani masalah kekerasan terhadap perempuan, saat ini di antara korban ada yang tinggal di luar negeri, biara, luar pulau Jawa, rumah yang dianggap aman dari intimidasi, klinik dan di rumah sakit jiwa.
Dari hasil verifikasi dan investigasi Kalyanamitra, peristiwa sadis itu mulai terjadi pukul 16.00 WIB pada 13-14 Mei lalu.
Lokasi kejadian di ruko yang pemiliknya WNI keturunan Tionghoa di beberapa jalan besar Jakarta Barat, dan Jakarta Utara.
Perkosaan dilakukan oleh 3-7 pria berbadan kekar, sangar secara bergantian, dan serentak di berbagai ruko.
Ketika itu pukul 16.00 WIB, tiga gadis bersaudara tinggal di sebuah ruko berlantai tiga, di tepi jalan besar kawasan Jakarta Barat.
Ketiganya merasa takut ketika tujuh pria masuk ke ruko dan mengobrak-abrik seluruh isi toko. Dalam keadaan panik dan takut, ketiganya lari ke lantai III untuk bersembunyi.
Namun, para perusuh mengejar ketiganya dan memerintahkan mereka telanjang. Mereka tidak memperkosa wanita yang sulung karena dianggap sudah terlalu tua, maka adiknya yang berumur 18 tahun dan 20 tahun diperkosa secara bergantian oleh empat dari tujuh pria itu di hadapan mata kakaknya.
Usai memperkosa, di antara perusuh turun ke lantai I membakar toko. Namun, karena kedua gadis bersaudara itu berteriak histeris saat diperkosa, pria yang masih berada di lantai III mendorong kedua gadis tersebut ke dalam kobaran api di lantai I.
Tragisnya, kedua gadis yang malang itu tewas terpanggang api bersama seluruh isi toko. Sedangkan kakak korban yang dalam keadaan telanjang diselamatkan oleh tetangganya setelah para perusuh meninggalkan ruko.
“Korban itu selalu menelepon saya, tapi belum pernah bertemu. Karena, komunitasnya takut intimidasi itu terulang kembali. Ia sangat tidak percaya lagi kepada pribumi,” tutur Ita.
Dipukuli
Penderitaan akibat tindakan sadis para perusuh bukan hanya dialami wanita WNI keturunan Tionghoa yang tinggal di ruko.
Seorang wanita yang sore itu pulang dari kantor dengan menumpang taksi di kawasan Cengkareng dicegat oleh 10 pria.
Mereka memerintahkan si wanita ke luar dari taksi. Dalam keadaan takut, wanita itu ditelanjangi dan sekujur badannya dipukuli.
Akibatnya, tubuh wanita ini penuh dengan luka-luka, terutama di bagian dada. Dalam keadaan terluka, seorang haji menolongnya dengan memberikan jilbab untuk menutupi tubuh korban, dan diantar ke rumah korban.
Para perusuh pun memperkosa wanita yang sudah bersuami. Seorang ibu yang sedang menyusui anaknya ketika kerusuhan itu terjadi, tidak luput dari serangan.
Tokonya diserang dan sang ibu diperkosa oleh tiga lelaki, sedangkan suaminya luka parah dipukuli para perusuh. Akibatnya, wanita ini mengalami stres luar biasa.
Tidak itu saja, di Jakarta Barat, menurut pengakuan wanita korban yang saat ini berada di Hong Kong, anak gadisnya berumur 16 tahun diperkosa dan vaginanya dirobek.
Saat ini gadis tersebut dalam tahap penyembuhan, dan dari segi mentalnya sudah sangat parah. Walau anak itu hidup, namun si ibu seakan-akan sudah kehilangan anaknya sebagai manusia.
Dalam kerusuhan itu bukan hanya anak gadis saja yang jadi korban, tapi juga keluarga dan usaha mereka sudah hancur.
Seorang korban perkosaan yang stres berat selalu berteriak akan bunuh diri kepada orangtuanya. Akhirnya, ayah korban yang menyaksikan sendiri anaknya diperkosa para perusuh ini juga mengalami goncangan jiwa. Karena, anak gadisnya selalu meneriakkan ingin bunuh diri.
Akhirnya, dalam keadaan stres berat sang ayah memberikan anak gadisnya racun serangga, dan anak itu akhirnya bunuh diri.
Korban lainnya, seorang anak berumur 10 tahun. Karena tidak kuat, ibu anak itu yang juga diperkosa perusuh akhirnya bunuh diri. Sedangkan ayahnya dibakar oleh perusuh.
Korban perkosaan lainnya yang ditangani Kalyanamitra, seorang wanita berusia sekitar 25 tahun. Korban ingin melupakan masa lalunya dengan cara tidak menggunakan bahasa Indonesia.
Ia kini selalu berbahasa Mandarin, dan tidak mau memakai baju-bajunya yang dulu.
Para korban dan keluarganya saat ini berada di Singapura, Taiwan, Hong Kong, Cina, di luar pulau Jawa, biara dan rumah yang dianggap aman.
Korbam umumnya belum bisa dimintai keterangan, karena mengalami goncangan jiwa yang sangat parah.
Telah Direncanakan
Disebutkan, korban perkosaan yang sudah ditangani dokter ada sekitar 20 orang di sebuah rumah sakit (RS) jiwa, dan ada tiga orang di klinik jiwa yang masih banyak belum terjangkau.
Korban yang mengungkapkan perasaan dan kejadian sadis lewat telepon ada lima orang, yang berada di rumah yang aman tiga orang dengan kondisi yang sangat parah. Sedangkan enam korban perkosaan di Jakarta Barat kini berada di luar negeri.
Menurut Ita, perkosaan yang dilakukan 3-7 orang itu, merupakan suatu tindakan sadis yang telah direncanakan untuk menghancurkan WNI keturunan Tionghoa untuk kepentingan politik. Karena, kekejaman itu dilakukan secara serentak di suatu wilayah yang disertai dengan pembakaran.
Sedangkan perempuan dijadikan korban, karena perempuan di Indonesia dianggap sebagai properti atau sebagai benda milik keluarga.
Sehingga, perempuan di Indonesia ini dinilai tidak punya hak apa-apa, karena ia hanya sebagai properti keluarga. Karena itu, pemerkosaan brutal yang dilakukan perusuh; untuk membangun rasa ketakutan masyarakat dengan mengorbankan wanita WNI keturunan Tionghoa.
Dirancang
“Biasanya hal seperti itu dilakukan di suatu negara yang sedang mengalami konflik. Ini tidak mungkin dilakukan orang biasa, karena orang biasa itu tidak mampu melakukan. Ini suatu teror yang sudah direncanakan dan ada pihak-pihak di balik ini,” tandasnya.
Ita mengatakan, pemerkosa tidak pernah dikenal oleh korban, dan bukan dari komunitas mereka. Pelaku perusuh diterjunkan serentak di berbagai tempat, dan setelah melihat lokasi kejadian, pemerkosaan itu dilakukan di ruko milik WNI keturunan Tionghoa yang berada di jalan besar.
Walau di perumahan biasa juga ada beberapa korban, tetapi jumlahnya sangat kecil.
Artinya, si penyerang mudah diturunkan dan diangkut kembali.
Kalau pun ada penduduk sekitar yang tertangkap, mereka bukan pelaku pemerkosaan, tapi penjarah. Bahkan, penduduk atau petugas keamanan yang mengetahui perkosaan itu tidak berani berbuat apa-apa, karena ketakutan.
“Ini menunjukkan, hal itu sudah dirancang dan sekarang masalah ini sudah tenggelam oleh masalah politik. Padahal, tindakan penghilangan hak hidup manusia, merupakan pelanggaran hak hidup manusia yang paling brutal,” tandasnya. Perkosaan, perusakan dan pembakaran terhadap WNI keturunan Tionghoa, menurut Ita, secara langsung bukan karena kesenjangan sosial.
Sebab, kesenjangan sosial sudah sejak lama dibentuk, yakni dengan menghadirkan anggapan di masyarakat; WNI keturunan Tionghoa hanya orang yang berdagang, memikirkan uang, yang tidak mau bergaul dengan orang Indonesia.
Konstruksi semacam itu diba ngun dan ditanamkan sejak zaman dulu. Konstruksi ini semakin diperkuat dengan mengeksklusifkan tempat tinggal WNI keturunan Tionghoa.
Padahal, tidak semua WNI keturunan Tionghoa kaya. Khususnya di Jakarta, dibentuk suatu tempat tinggal eksklusif Tionghoa oleh rezim yang berkuasa.
Sehingga, ketika terjadi sesuatu, komunitas inilah yang dikorbankan, sebagai kelompok yang mengakibatkan kesenjangan ekonomi.(NN/D-7)

Surat Terbuka Buat Para Penjarah

http://www.fica.org/cs/sp-mayriot01-id


Surat Pembaca - Harian Suara Pembaruan

Jum'at, 12 Juni 1998

SURAT TERBUKA BUAT PARA PENJARAH

Redaksi Yth.,
Perusuh dan para penjarah yang terhormat, tahukah kau, temanku Lily,
tiga pekan lalu, menelepon saya sembari terisak menceritakan pengalaman
tragis yang menimpa keluarganya. ''Semuanya ludes, tak tersisa, Kak,''
begitu ia mengawali kisahnya dari seberang sana.
Aku trenyuh memikirkan nasib mahasiswi Atma Jaya itu. Ia bingung, cemas,
takut, tak tahu lagi hendak berbuat apa. ''Lily takut, bingung. Kami
semua, bokap dan nyokap, kini bersembunyi di rumah tante di Tanah Abang.
Ruko kami di Kranji habis dijarah massa. Mereka tak menyisakan satu pun,
selain pakaian di badan kami. Tolong, Kak, selamatkan kami,'' isak Lily
menutup telepon.
Lily, tentu saja, tidak sendiri. Masih ada ribuan korban lain, yang
mengalami nasib serupa. Mereka kini diselimuti ketidakpastian. Masa
depan mereka telah kau jarah, kau rampas.
Tahukah kau wahai para perusuh dan penjarah, tindakanmu telah
menyengsarakan kehidupan ratusan ribu, bahkan jutaan manusia lain yang
mengharapkan sesuap nasi dari hasil pekerjaan halal. Kau tahu,
teman-temanmu karyawan sebuah super market di Tangerang sempat menggelar
unjuk rasa, menuntut mengembalikan pekerjaan mereka, yang telah pula kau
rampas.
Kau tahu, orang-orang kecil seperti kau, yang mengantongi gaji bulanan
standar UMR. Kalau kau sempat nonton televisi, Menko Ekuin Ginandjar
Kartasasmita belum lama ini pun, melaporkan besarnya jumlah pengangguran
akibat ulahmu. Menurut Ginandjar, sekitar 50.000 orang kehilangan
pekerjaan (itu pun perhitungan kasar), karena tempat usaha mereka hancur
kau bakar atau kau jarah.
Kau tahu, sebetulnya masih banyak yang ingin saya ungkapkan. Tapi saya
tak sanggup lagi. Bau bangkai manusia dan gedung, amis darah dan bubuk
mesiu, masih mengganggu penciumanku.
Kepada aktor intelektual kerusuhan dan penjarahan saya minta satu hal:
hentikan manuver-manuver politik murahan dan bersimbah darah! Kau tahu,
kekuasaan yang dibangun di atas bangkai pengorbanan manusia lain, bakal
ambruk termakan bangkai-bangkai itu. Sadarlah!

Ngobert Nomen,
Kalimalang, Jakarta

Luka kerusuhan perempuan Indonesia

http://www.fica.org/cs/kompas-mayriot-id

Jumat, 5 Juni 1998

Luka Kerusuhan, Luka Perempuan KETIKA amuk sudah reda, asap kebakaran toko-toko dan pusat perbelanjaan di Jakarta sudah padam, ada baiknya merenungkan apa yang sudah terjadi pada pertengahan Mei itu. Sesuatu yang selama ini kurang disorot media massa, namun punya bekas, luka, dan trauma mendalam pada beberapa individu.
Di tengah kecamuk keadaan waktu itu, terjadi serpihan-serpihan peristiwa yang sungguh sulit diterima oleh siapa saja yang masih punya hati nurani: penjarahan terhadap "milik" perempuan yang paling berharga, dari pelecehan seksual sampai tindak perkosaan.
Bau busuk peradaban ini susah untuk ditutupi. Paling tidak Komnas HAM sudah mengawali mengungkapnya dalam jumpa pers pekan ini. Sejumlah kasus perkosaan dan pelecehan seksual yang terjadi bersamaan dengan kerusuhan 13-14 Mei lalu, telah dilaporkan ke Komnas HAM.
Anggota Komnas HAM Aisyah Amini telah menyebutkan, "Secara kualitatif peristiwa ini mengguncang para korban, yang juga etnis Cina serta warga Indonesia lain, termasuk warga negara asing."
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat, sebenarnya diam-diam telah mengupayakan gerakan pendampingan terhadap para korban ini. Mereka menyadari, sampai saat ini sebagian besar korban belum tertangani. Juga belum ada advokasi yang terorganisir untuk membantu para perempuan yang menjadi korban pelecehan dan perkosaan.
Akhirnya berbagai organisasi dan individu dengan latar belakang dan kalangan yang beragam, sepakat membentuk Tim Relawan Kemanusiaan Divisi Perempuan. Tim yang dikoordinatori Ita F Nadia ini siap memberikan bantuan mulai dari penanganan medis, pendampingan, shelter, terapi psikologis, jaminan keamanan, sampai bantuan hukum.
"Orang-orang yang menjadi korban ini dalam keadaan sangat takut, shock, tidak berdaya. Mereka butuh dibesarkan hatinya," kata Sita Aripurnami dari Kalyanamitra, salah satu anggota Tim Relawan.
***
DAN inilah yang dialami Andina, sebut saja begitu. Gadis berusia 26 tahun ini, pada hari naas itu (Rabu 13/5) pulang dari kantornya. Sebuah bank swasta di kawasan Tomang. Ia dibonceng pacarnya, pegawai perusahaan komputer, menuju rumahnya di bilangan Jelambar, Jakarta Barat.
Merasa keadaan sudah mereda, mereka nekad pulang menjelang pukul 21.00 WIB. Keduanya tak pernah bermimpi, dalam perjalanan itu, di suatu tempat di Jakarta Barat mereka tiba-tiba dikepung massa yang muncul begitu saja entah dari mana.
Di keremangan malam itu, Andina sudah tak mampu lagi berpikir diapakan saja dirinya. Yang teringat hanyalah, ia ditarik-tarik massa agar turun dari sepeda motor.
"Tuhan, tolong Tuhan...." hanya kata-kata itu yang dia teriakkan, di tengah-tengah himpitan kepanikan dan ketakutan luar biasa.
Blazernya sudah terlepas, sementara seluruh harta miliknya dilolosi. Uang, handphone, kartu ATM, SIM, STNK, helm, bahkan obat dokter untuk orangtuanya yang baru ditebus di apotek, habis dijarah.
Andina tidak ingat lagi, diapakan saja dirinya waktu itu. Hanya doa yang terus menguatkannya. Sekali ia jatuh terjengkang, tetapi dengan kekuatan yang tersisa ia bangun dan kembali memegang baju pacarnya erat-erat.
Sang pacar, yang orangtuanya berencana melamar tanggal 17 Mei -empat hari sebelum kejadian ini menimpa- tak berdaya dipukuli massa. Yang terdengar hanyalah rintihannya, "Ampun Pak.. ampun.. Saya orang biasa..."
Sementara teriakan massa makin menyeramkan. Tetapi dalam keputusasaan, menurut penuturan Andina, tiba-tiba ada orang tua muncul. Ialah yang memerintahkan agar para penjarah membebaskan dua anak manusia ini.
Andina dan pacarnya bisa pergi meninggalkan tempat itu, sebelum kemudian ditolong polisi jaga di dekat situ yang juga tak luput dari lemparan batu massa.
Oleh polisi mereka diantar ke rumah penduduk. Seorang penduduk kemudian memboncengkan keduanya sampai rumah. Berhari-hari kemudian, Andina masih saja dicekam peristiwa itu.
Lama ia tak masuk kantor. Sekujur tubuhnya penuh bilur-bilur biru, bahkan juga di pangkal paha. Bekas-bekas kekerasan ini, baru hilang seminggu kemudian.
***
DATA yang dikumpulkan Tim Relawan Kemanusiaan Divisi Perempuan makin menunjukkan, betapa hak dan harkat perempuan, bahkan juga nyawa, menjadi tak berharga begitu kerusuhan melanda.
Dari hasil pendataan sementara, diketahui sebagian besar korban pelecehan dan perkosaan adalah perempuan etnis Cina berusia muda. Sebagian besar kasus, terjadi di kawasan Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Tangerang. "Kami juga menemukan satu kasus perkosaan pada anak berusia 12 tahun," kata Ita.
Ditemukan data bahwa sebagian besar perkosaan dilakukan berkelompok yang bisa mencapai lebih daripada lima orang. Ditemukan pula korban yang dilukai setelah diperkosa.
Kekejaman dan kebiadaban juga dialami perempuan warga keturunan yang tidak diperkosa. Mereka ditelanjangi, dianiaya, dan dipaksa melakukan berbagai hal yang memilukan.
Seorang saksi mata menuturkan, massa dengan semena-mena menggerayangi para karyawati bank di bilangan Gajah Mada ketika mereka dengan panik keluar gedung menjelang kantor tersebut dibakar, Kamis (14/5).
Melihat luasnya daerah kejadian yang tercatat, tim relawan memperkirakan korban pelecehan dan pemerkosaan ini ratusan jumlahnya. Kata Sita, "Pada kasus-kasus semacam ini biasanya korban menjadi sangat apatis dan tertutup, sehingga lebih sulit pendataannya."
"Keengganan tersebut makin diperkuat oleh tidak adanya jaminan keamanan dan kuatnya sikap rasialis terhadap warga Indonesia keturunan Cina," tandas Ita.
***
APAKAH batas-batas itu telah terlampaui?
Nurani kita masing-masing yang bisa menjawab. Tapi semoga kita bisa ikut merasakan betapa perih luka yang dialami Andina dan para korban lainnya.
"Sakit, sakit sekali... Saya bercerita, dengan harapan ada salah satu dari mereka bisa membaca, bisa tahu apa yang saya rasakan, dan tak mengulanginya pada orang lain," tutur Andina dengan mata berkaca-kaca.
Suatu hal yang umumnya justru disimpan rapat-rapat sang korban dalam kesendirian dan keterpurukannya. Kalau sudah begini, masih adakah nurani untuk membantu mereka? (bre/nes)

Reports allege organized raping during Indonesian riots

http://www.cnn.com/WORLD/asiapcf/9806/28/indonesia.rapes/index.html

Reports allege organized raping during Indonesian riots

Damage to ethnic Chinese property from the riots was in the millions of dollars

Indonesia's ethnic makeup:
Ethnic Chinese comprise a relatively small portion of Indonesia's total population of more than 209 million people.
Here's a look at Indonesia's ethnic breakdown:
Javanese 45 %
Sundanese 14 %
Madurese 7.5%
Malay 7.5%
Ethnic Chinese about 4%
Other 22%
Sources: CNN Interactive and The New York Times Almanac 1998 June 28, 1998
Web posted at: 11:51 a.m. EDT (1551 GMT)

JAKARTA, Indonesia (CNN) -- The Indonesian military and government are investigating reports that ethnic Chinese women were victims of organized sexual attacks during devastating riots in May, officials tell CNN.
Human rights groups are also looking into the accusations and say they are documenting what they believe was an organized campaign of racially motivated assaults, gang-rapes and killings of ethnic Chinese during the riots.
"There is no doubt in my mind that these riots were organized. Well organized, even prepared by certain groups two weeks in advance," said Father Sandyawan Sumardi, of the Volunteer Team for Humanity.
The food riots and anti-government protests first surfaced about mid-February, as a plummeting currency and other economic woes angered the population.
University students, in particular, held near-daily protests calling for political reforms. By May, the demonstrations gave way to large-scale violence in which hundreds of people died.
The government bowed to protesters' demands, and Suharto, who had been in power 32 years, resigned the presidency.
Ethnic Chinese make up about 4 percent of Indonesia's population, and many are business owners. Typically considered scapegoats in Indonesia, it was the homes and businesses of the ethnic Chinese that were targeted during the riots.
Tan Guan Tjai told CNN he lost his entire family to the violence.
His wife and two daughters were burned alive as they hid from the angry mob, Tan said.
VXTREME
CNN's Matthew Chance reports on the investigation from the Indonesian capital, Jakarta.

VXtreme streaming video (2:37)

"Everything I love has been taken away. Now my life is finished. There is nothing left," he said.
Although officials are looking into the allegations, finding evidence may be difficult.

Tan Guan Tjai said his family was burned alive as they hid from the mobs

Many of the alleged rape victims were reportedly burned to death afterward, and survivors are reluctant to talk for fear of reprisals.
Few Indonesians believe justice, if warranted, will be served.
One young woman told CNN she had been sexually attacked during the violent weeks. She agreed to be interviewed, but not identified.
"I cannot understand what I have done wrong," she said. "I live in Indonesia, grew up in Indonesia, I can't even speak Chinese. So why are the people here so cruel? Now when I see anyone, I am scared."
Correspondent Matthew Chance contributed to this report.

Selasa, 24 Juli 2007

PEMERKOSAAN PEREMPUAN ETNIS CINA DI JAKARTA

http://www.fica.org/cs/rn-mayriot-id

From owner-berita@LISTSERV.RNW.NL
Mon Jun 8 12:50:52 1998
Date: Mon, 8 Jun 1998 17:40:07 +0100
From: RNW berita list manager
Reply-To: berita-request@RNW.NL
To: BERITA@RNW.NL

Subject: Warta Berita - Radio Nederland, 08 June 1998

* PEMERKOSAAN PEREMPUAN ETNIS CINA DI JAKARTA.
Etnis Cina dan perempuan adalah target paling lemah dan mudah dituju.
Puluhan atau bahkan mungkin ratusan perempuan etnis Cina menjadi korban
pelecehan seksual dan perkosaan yang terjadi ketika rumah-rumah atau
toko-toko mereka dibakar dan dijarah pada tanggal 13 dan 14 Mei dulu di
Jakarta. Begitu biadabnya para pelaku seolah mereka sudah tidak memiliki
rasa perikemanusian sedikitpun.
Para korban, tidak saja dilecehkan atau diperkosa, tapi ada pula yang
dicekik dan dibunuh. Sebagian korban mengalami gangguan jiwa sangat
serius. Mengingat para korban sangat trauma dan ketakutan untuk
mengungkapkan peristiwa yang menimpa mereka, maka para relawan bersikap
pro aktif, dengan mencari para korban, mengunjungi rumah sakit dan
membuka hotline. Sejauh ini, tim sudah mengidentifikasi sekitar 50
kasus.
Setiap harinya, sekitar dua puluh lima perempuan menilpun hotline
tersebut. Berikut sejumlah kasus pelecehan seksual dan perkosaan yang
telah diidentifikasi oleh Divisi Perempuan, yaitu kelompok relawan dari
berbagai LSM yang peduli terhadap nasib korban, dituturkan oleh
koordinatornya Ita Nadia.
Ketika para pegawai pulang naik bis didalam bis, penumpang di pilah-
pilah. Para penumpang Cina disuruh turun, disuruh membuka baju, dan
kemudian disuruh jalan berbaris. Mereka digiring ke padang ilalang
dipinggir jalan dan di pilah-pilah lagi. Yang berparas cantik diperkosa.
Sedangkan yang berparas tidak begitu cantik disuruh berjalan telanjang.
Modus berikutnya, perempuan-perempuan Cina secara ramai-ramai
ditelanjangi dijalan raya, kemudian tubuhnya digerayangi. Kami menemukan
putingnya ada yang sobek dan seluruh badan memar. Ada lagi pegawai bank.
Sebanyak sepuluh orang memasuki bank dan menutup bank tersebut. Para
pegawai Cina disuruh menari-nari dengan telanjang. Kemudian ada tiga
anak gadis dari keluarga Cina miskin yang diperkosa. Mereka berumur 10
sampai delapan belas tahun, diperkosa oleh tujuh orang disebuah tempat
di Jakarta Utara/Barat.
Yang berikutnya adalah sebuah keluarga yang kebetulan kakak perempuan
para korban mengaku kepada Ita Nadia bahwa dua adik perempuannya
diperkosa di lantai tiga rumah mereka oleh tujuh orang pula. Setelah
diperkosa, dua adik perempuan itu didorong ke lantai dua dan satu dimana
api telah berkobar, sehingga dua adik tersebut meninggal. Itu beberapa
kasus. Kasus-kasus lain, mereka biasanya diperkosa, kemudian dicekik.
Tetapi ada juga yang ketika diperkosa, korban kemudian membunuh diri.
Para korban ini tidak hanya diperkosa di vagina tetapi juga di dubur dan
diikuti pula dengan pengrusakan vagina. Itu dilakukan secara sistematis
karena tidak dilakukan oleh orang biasa. Secara politis, saya mau bilang
bahwa ini adalah perbuatan untuk menunjukkan "kalau kamu menuntut
reformasi dan demokrasi, ini adalah bagian yang harus kamu bayar. Dan
bagian yang harus kamu bayar adalah mengorbankan etnis Cina, dalam hal
ini adalah perempuan sebagai target untuk membangun sebuah teror atau
ketakutan di masyarakat untuk mengintimidasi masayarakat. Jadi
dipilihlah etnis Cina dan perempuan dan non muslim karena merekalah yang
paling lemah".
Tim relawan untuk kemanusian Divisi Perempuan sesungguhnya adalah tim
relawan untuk kemanusiaan yang lebih besar, yang dipimpin Romo
Sandyawan. Tim sudah melakukan identifikasi korban-korban kerusuhan yang
jumlahnya mencapai 1333. Sekarang, kami sungguh-sungguh sangat marah
karena perempuan dijadikan target atau obyek untuk mengintimidasi
masyarakat lewat kekerasan seksual. Ini adalah state violence.
RADIO NEDERLAND : Pesan apa yang ingin anda sampaikan kepada korban yang
sampai saat ini belum atau tidak berani mengungkapkan apa yang menimpa
dirinya.
ITA NADIA : Tolong, jangan takut karena membuka kebisuan adalah
membangun kesadaran. Breaking the silence. Para korban bisa langsung
menelpon nomor hotline, yaitu 021-790 2109 atau 021-790 2112. Kami akan
menjaga kerahasiaan baik para korban maupun informan. Sedangkan untuk
masyarakat luar negri, berilah dukungan. Dukungan dalam arti berkampanye
untuk mengutuk perbuatan ini. Bagaimanapun juga, mereka telah
didiskriminasi, secara politik didiskriminasi sebelumnya oleh pemerintah
dan sekarang mereka dikorbankan
-----------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.rnw.nl/
Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui ranesi@rnw.nl
Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
-----------------------------------

CHINESE WOMEN RAPED DURING RIOTS IN JAKARTA

http://www.fica.org/cs/rn-mayriot-en

From owner-berita@LISTSERV.RNW.NL
Wed Jun 17 00:38:43 1998
Date: Tue, 16 Jun 1998 15:50:06 +0100
From: RNW berita list manager
Reply-To: berita-request@RNW.NL
To: BERITA@RNW.NL
Subject: Warta Berita - Radio Nederland, 16 June 1998

* CHINESE WOMEN RAPED DURING RIOTS IN JAKARTA
This is a translation of an interview the Indonesian Department of Radio
Netherlands conducted with Ita Nadia, one of the workers at the women
sector within the Voluntary Team which deals with the aftermath of the
recent riots in Jakarta. Ita Nadia is also the Director of Kalyana
Mitra, an all-women NGO. The interview was conducted in the Indonesian
language on June 8, 1998. It was broadcast in Gema Warta and Fokus Awal
Pekan the following day, June 9th.
RN: How many victims have contacted your group so far?
IN: It is extremely difficult to quantify the number of victims who
reported their cases, first of all because they are deeply traumatized
and also because, as women, they face other obstacles, such as being
Chinese and non-Muslim (in a largely Muslim environment). If we wait
until they come to us then it's not going to work. So we use a pro-
active approach. We try to find them. We open a telephone hotline. We
also try and recruit volunteers. At the moment we provide the victims
with medical and psychological help, in order to make them strong enough
so that they can present their case in court. According to our records
(as of June 8) there are between 25 and 50 cases to be dealt with.
We assist the victims intensively. The women of ethnic Chinese origin
tend to be very reluctant to talk, traumatized as they are. We have
visited hospitals and noted that many victims have suffered mental
breakdowns. That means there is nothing we can do for them at present.
The type of victim varies from women who were assaulted in the street to
those who were raped in their own homes. In some instances, women were
raped and then killed. In others, the rape victims and their families
committed suicide.
RN: Are there many victims who make use of your telephone hotline?
IN: Hotlines have been opened in two places. One is in the office of
Kalyana Mitra, the other at Mitra Perempuan; both are all-women NGO's.
We receive an average of 25 calls a day, mostly from informants. About
three to five victims a day call our hotlines. Usually they don't want
to identify themselves, most are hysterical and crying. We tend to get
their addresses from informants, relatives or neighbours, not from the
victims themselves. They range in age from ten to fifty. We believe the
abuse to be barbaric, systematic and organized, since most of the
perpetrators were not from the area, but came from elsewhere, in groups.
RN: Are the victims exclusively from the ethnic Chinese community?
IN: The majority, about 98 percent, are ethnic Chinese. We know of one
or two cases involving women from other ethnic groups but these have not
yet been confirmed. All of the victims we have dealt with were Chinese.
RN: How would you build a court case; wouldn't it be almost impossible
to identify individuals as the perpetrators?
IN: Well, it is difficult to pinpoint individual rapists, because the
incidents involved groups of between five and nine men. Our target is
the government, because we think this is the government's
responsibility. The acts were well-planned and carried out as a military
operation. The men would come to a certain place, loot shops en then
rape the women -something which is very common in military situations.
Our targets are not the guilty individuals, since it is difficult to
produce evidence, but we want to raise the awareness and solidarity of
the public. Society itself will have to militate against this kind of
injustice.
RN: Do you have any idea who committed these acts?
IN: All we know is that they operated in groups of five or more. They
were not local people and the incidents were cases of multiple rape, in
which one woman was usually abused by up to five men. The rapes took
place in the street and in people's homes.
RN: Could you give a rundown of cases that have been documented?
IN: There were employees going home by public transport. On the bus, the
passengers were separated along ethnic lines. The Chinese were told to
get off, take off their clothes and walk. They were herded towards the
bushes lining the road. The good-looking ones were raped, those who were
less pretty were told to march on without any clothes on. In another
incident, a group of Chinese women were stripped naked and harrassed. We
met some women who had bruises all over their bodies, their nipples had
been torn. There was a case where a group of ten people entered a bank
and sealed off the door. Inside, the Chinese women employees were made
to dance without any clothes on. Then there was the poor Chinese family
whose three daughters, aged 10 to 18, were raped by seven men. Yet
another case involves a Chinese family whose eldest daughter told me
what happened to her two younger sisters. They, too, were raped by seven
men, on the third floor of their house. Afterwards, their attackers
chased them down to the second floor, which was already in flames. Both
girls died. There've been other cases where women were not only raped,
but strangled as well. Also, there were cases where, after being raped,
the victims and their families ended up killing themselves. These were
cases where the women were not only raped, but also sodomized and had
their vaginas ripped apart. These assaults were carried out
systematically, not by any single individual.
I would say that there is a political message in all this: if you want
reforms and democracy then this is the price you have to pay. They want
to create a state of terror, in order to intimidate people, so they pick
on ethnic Chinese, on women and non-Muslims because they are the most
vulnerable. We are extremely angry that women are being targeted and
subjected to sexual violence as a means to intimidate people. This is
state-sponsored violence.
RN: What would you say to victims who are still afraid to explain what
happened to them?
IN: I would say 'please don't be afraid, because breaking your silence
will help raise awareness'. They can call our hotlines on 021-7902109 or
021-79021121. We guarantee complete confidentiality. To the outside
world I say: please give us your support. Support means campaigning
against this barbarism and condemning it. Ethnic Chinese were already
the target of political discrimination by the government. Now they are
being victimized.
RN: Do you think these cases have received enough attention from the
government and the media?
IN: This is an act of discrimination that has built up for more than 30
years. Rape is a criminal act, but the matter has gone beyond mere
crime. It is a social outrage. We want to show that this is a crime
beyond comprehension. As for the media, we insist that this is also
their responsibility. Right now we are still concentrating on the
victims, standing by them and trying to restore their confidence. This
is a duty that involves not just looking after women but also raising
awareness. I am glad to say that we are getting very positive reactions
from all layers of society, both from indigenous Indonesians and ethnic
Chinese who support our work.
We have been threatened ourselves, they've even sent us grenades. One
grenade came with a message attached: 'there will be more grenades to
come'. But I say: we're doing this not to gain political power, we're
doing this for the victims, for those who have died. Our motivation
comes from the heart. When I came to this I was deeply shocked and
couldn't believe what I heard and saw. Our group, Kalyana Mitra, has
been dealing with rape cases for ten years but we've never encountered
anything quite as barbaric as this. The victims ask for protection
because they fear reprisals if the details of their cases are revealed.
We are now helping the victims to take HIV tests. If they've become
pregnant they will need an abortion. They will also need psychological
care.
-----------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.rnw.nl/
Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui ranesi@rnw.nl
Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
-----------------------------------